Review ' FILM STREET SOCIETY'

shares |

STREET SOCIETY merupakan film terbaru besutan Awi Suryadi. Menyuguhkan elemen street racing yang sangat jarang diusung film buatan dalam negeri, fitur produksi Ewis Pictures satu ini berhasil menginterpretasikan sajian berbeda yang bakal memacu adrenalin.

Review ' FILM STREET SOCIETY'

Film Street Society pada dasarnya salah kaprah bila dibandingkan dengan Fast and Furious dengan rasa nusantara – lihat saja font-nya – sebenarnya Film ini mempunyai sesuatu yang lebih dari sekedar usaha Indonesia untuk menunjukkan bahwa, “Kita bisa loh bikin film ala-ala Hollywood.” Dan ketika gue bilang bahwa Street Societybilang adalah sebuah entertainment yang seru dan juga bodoh pada saat yang bersamaan, lo bisa menjamin kata-kata gue.

Rio (Marcell Chandrawinata) adalah seorang pembalap yang juga merangkap sebagai seorang womanizer. Dua label itu tentu saja saling mengisi satu sama lain. Malam hari dia berbalapan dengan anak-anak berduit super selow seperti dirinya dan di pagi hari dia akan melarikan diri dari cabe-cabean yang dia pake semalam.

Pertemuannya dengan Karina (Chelsea Elizabeth Islan), DJ dengan attitude I’m-not-impressed-with-how-big-your-dick-really-is membuat Rio penasaran. Dan walopun Rio sudah membuat Karina bisa nge-DJ lagi di klub Yopie (Edward Akbar), anak orang kaya raya yang kabarnya juga gangster, Karina sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan. Game hard-to-get ini semakin lama semakin membuat Rio penasaran.

Gongnya terjadi ketika Karina yang akhirnya menjadi pacarnya – tentu saja – diculik oleh Yopie dan bakalan “dipake oleh anak buah gue yang always horny” kecuali Rio bersedia untuk balapan lagi dengan Nico (Edward Gunawan), pembalap dari Jawa yang merasa dirinya titisan boyband Korea. Rio nggak ada pilihan lagi selain menyalakan mesin mobil mahalnya.

Review ' FILM STREET SOCIETY'

Awi Suryadi melakukan debut penyutradaraan dengan luar biasa denganClaudia/Jasmine, salah satu romantic comedy terbaik yang dimiliki Indonesia. Gue sempet ngefans sama dia kalau saja dia nggak melakukan kemunduran yang fatal dengan film-filmnya sesudahnya. Filmnya yang terakhir, Loe Gue End, walopun secara visual bisa ngeludahin semua filmnya Fajar Nugros dengan mata tertutup tetep saja memberikan gue mimpi buruk. Untunglah Awi Suryadi memperbaiki citranya dengan Street Society ini.

Ketika gue bilang Street Society ini beberapa langkah diatas Loe Gue End bukan berarti film ini berada di posisi yang sama dengan Claudia/Jasmine. Street Society – ditulis oleh Khalid Kashogi & Agasyah Karim yang juga menulis Gara-Gara Bola yang begitu fun – mempunyai kadar kejeniusan setingkat anak kelas 6 SD yang baru akil balig. Akan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang keluar di kepala lo seperti : Ini orang kerjanya apa ya? Sebenarnya apa hubungan relationship antara si Rio dengan abang-abangnya? Sesibuk apa orang tua kakak Rio sampe dia selalu jadi baby sitter? Ngapain juga si Rio balapan sampe ke Madura? Atau yang paling krusial kayak pas adegan si Yopie nyediain mobil-mobil balapan buat Rio dalam rangka ngadepin si Nico, kenapa si Rio nggak ngehantem si Yopie aja demi Karina? Orangnya udah ada di depan mata gitu.

Semua ke-Agnes-Monica-an itu – Tak Ada Logika, get it? – tidak penting lagi kalo lo dihibur dengan dialog yang cheesy tapi fun, editing yang super cepat, musik menghentak Aghi Narrotama dan sinematografi cool dari Roy Marpaung yang surprisingly membuat Street Society menjadi sebuah film yangentertaining. Belum lagi twist ending-nya yang cukup menghibur.

Tambahan jempol untuk tim make-up dan costume designer-nya yang ketauan banget mikirin berat ciri khas untuk masing-masing karakternya. Hal remeh ini sebenarnya sangat krusial untuk sebuah film namun ini jarang dipikirin sama film Indonesia lain yang memiliki target audience serupa. Dan untungnya, pembuat Street Society menganggap ini serius dan gue sangat seneng denganeffort yang sudah dihasilkan. Tanpa perlu berbicara, penonton bisa melihat jelas positioning karakter dalam film ini. Hal sepenting itu jarang lo saksikan dalam film Indonesia.


Dan ini didukung dengan pilihan cast-nya yang tepat. Gue nggak ngomongin penampilan mind-blowing ala-ala Daniel Day Lewis disini, tapi paling nggak, Awi Suryadi tahu bagaimana mendirect orang-orang bertampang rupawan di film ini tanpa menjadi orang yang annoying. Ini pekerjaan yang agak berat, terutama kalo lo punya karakter weirdo-annoying kayak Rico atau Yopie yang nada bicaranya seakan-akan dia lagi ngomong pake bahasa Parseltongue.

STREET SOCIETY dibintangi oleh para pemain yang cukup mumpuni dari Marcell Chandrawinata sampai Wulan Guritno. Namun yang paling memikat justru akting Chelsea Elizabeth Islan dan Edward Akbar yang berhasil menyita perhatian.
Loading...

Related Posts