Menteri Susi Akan jadikan Indonesia Pengekspor ikan nomer satu di ASEAN

shares |

Menteri Susi Akan jadikan Indonesia Pengekspor ikan nomer satu di ASEAN

AMIMAZDA.COM - Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti geram lantaran industri pengolahan ikan di Asia Tenggara dikuasai oleh Thailand dan Filipina. Sementara Indonesia sebagai pemilik lautan terluas dan garis pantai terpanjang di Asia Tenggara hanya menduduki posisi ketiga.

"Ini sangat memalukan. Sebaiknya kita semua benar-benar serius untuk menata ini kembali supaya bisa menjadi nomor satu di ASEAN," kata Menteri Kelautan dan Perikanan itu.

Geramnya Menteri Susi juga didasari atas tingginya ekspor ikan Thailand dan Filipina akibat bebasnya mereka memancing di perairan Indonesia. (baca: Menteri Susi: Hanya Nelayan Indonesia yang Boleh Tangkap Ikan di Laut Nusantara)

Lemahnya penegakan hukum terhadap pencurian ikan (illegal fishing) pada masa lalu membuat nelayan dan perusahaan penangkapan ikan Thailand dan Filipina bebas menangkap ikan di Indonesia dan kemudian membawanya ke negara mereka untuk diolah dan diekspor.

"Tragisnya ikan yang mereka ambil ada juga yang diekspor ke Indonesia. Jadi, kita membeli ikan yang mereka ambil dari kita," kata Susi

Menteri Susi pun ingin merebut gelar negara pengekspor ikan terbanyak di ASEAN itu dengan menerapkan sejumlah kebijakan, salah satunya dengan moratorium perizinan kapal eks asing dan larangan bongkar muat ikan di tengah laut (transshipment).

Tujuannya adalah untuk membatasi ruang pencurian yang selama ini terbuka lebar.

Menyadari tak bisa lagi mengandalkan ikan curian dari Indonesia, perusahaan pengolahan ikan dari Thailand dan Filipina akhirnya datang ke Indonesia untuk berinvestasi.

Selain itu, KKP juga sudah meresmikan empat kapal pengawas pencuri ikan di Pelabuhan Tanjung Priok, pekan lalu. Setelah empat kapal ini, Susi berencana menambah 6 unit lagi. Adapun empat kapal pengawas maling ikan yang diresmikan ini diberi nama Orca, diambil dari nama paus pembunuh Orcinus Orca.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi surplus dalam perdagangan sektor perikanan. Pada tahun 2013 nilai ekspor perikanan mencapai USD2,86 miliar, kemudian pada 2014 naik menjadi USD3,1 miliar.

Untuk periode Januari sampai September 2015, Indonesia adalah negara yang paling unggul dalam hal ekspor komoditas tuna, tongkol, dan cakalang (TTC).

Berdasarkan data UN Comtrade periode Januari-September 2015, impor TTC dari Indonesia naik 267 persen atau 16,1 ribu ton. Kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk KKP, Nilanto Perbowo, nilainya mencapai USD127,4 juta.

Sebaliknya, Thailand mengalami penurunan volume sebanyak 13,4 persen menjadi 70,7 ribu ton. Nilai ekspornya turun 13,6 persen menjadi USD313,5 juta. Filipina turun 21,2 persen menjadi 14,4 ribu ton dengan nilai USD79 juta atau turun 21,7 persen.

Data dari Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal yang dibentuk lewat Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2015 mengungkapkan, negara yang sering melakukan penangkapan ikan secara ilegal di Indonesia antara lain Tiongkok, Filipina, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Hal itu dilihat dari data penenggelaman kapal asing sepanjang 2015.

Ada 117 kapal asing pencuri ikan di laut Indonesia yang telah ditenggelamkan oleh pemerintah. Dengan rincian penenggelaman kapal sebanyak 107 unit hingga 30 Desember 2015.

Dari 107 kapal asing tersebut, sejumlah negara yang melakukan pencurian ikan itu antara lain dari Malaysia enam kapal, Filipina 34 kapal, Tiongkok 1 kapal, Thailand 21 kapal, Vietnam 39 kapal, Papua dua kapal, dan Indonesia empat kapal.

Sedangkan 10 kapal yang ditenggelamkan pada 31 Desember 2015 antara lain Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Lokasi penenggelaman kapal di Perairan Belawan, Tarempa, Tarakan dan Tahuna.
Loading...

Related Posts