Inilah Iren Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Unair Termuda di Usia 15 Tahun

shares |

Inilah Iren Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Unair Termuda di Usia 15 Tahun

AMIMAZDA.COM - Semarang, Cita-cita gadis cantik bernama Rania Tasya Ifadha untuk menjadi dokter tinggal selangkah lagi. Meski masih berusia 15 tahun, kini ia sudah resmi menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dara asli Kota Semarang itu sangat senang bisa menjadi mahasiswi FK Unair melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Iren, sapaan akrab Rania merasa bersyukur bisa menjadi mahasiswi bahkan termuda di fakultasnya.

"Tentu saja bersyukur," tandas Iren saat ditemui di rumahnya, Jalan Singa Timur I nomor 29, Kota Semarang, Jumat (3/6/2016).

Iren merupakan alumni SMAN 3 Semarang dari kelas akselerasi, dia berusaha keras mengikuti pelajaran yang padat karena memang ingin mengejar cita-cita menjadi dokter sejak kecil.

"Sudah dari kecil memang ingin jadi dokter. Muncul semangat," kata Iren.

Kelas akselerasi masuk dalam kuota 75% dalam SNMPTN. Iren awalnya ingin masuk Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, ia kemudian berkonsultasi dengan guru yang memberikan beberapa pilihan. Ternyata Iren akhirnya menjatuhkan pilihan ke Unair yang justru persaingannya untuk Jawa Tengah lebih ketat.

"Tadinya ingin ke UGM, tapi ada guru sebenarnya memberi tahu kalau UM bisa pilih Unair, mungkin saya salah tangkap, hehe, akhirnya pilih Unair. Tp Alhamdulillah ternyata jalannya seperti ini," ujarnya.

Setelah dinyatakan lolos SNMPTN, Iren mengikuti prosedur registrasi hingga berbagai tes. Tes yang cukup menegangkan yaitu tes kesehatan karena akan berpengaruh diterima atau tidak.

"Alhamdulillah tes kesehatan sekali, soalnya ada yang sampai harus mengulang. Biasanya masalah di telinga. Terus ELPT (English Language Proficiency Test) juga lolos, kalau tidak harus ada mata kuliah wajib lainnya," terangnya.

Putri pertama pasangan Hasanudin (41) dan Suhartini (37) itu kini bercita-cita menjadi dokter spesialis anak. Ia berjanji akan berusaha karena selalu ingat perjuangan orangtuanya yang selama ini mendukung cita-citanya.

"Ingin jadi dokter spesialis anak. Ya kalau bisa segera tercapai karena ingin cepat membanggakan orang tua," pungkasnya.

Iren menempuhnya di SDN Supriyadi Semarang dan mulai bersekolah sejak usia 5 tahun. Kemudian ketika berusia 11 tahun, Iren masuk kelas akselerasi di SMPN 2 Semarang, berikutnya ia mengikuti kelas akselerasi di SMAN 3 Semarang pada usia 13 tahun.

Sekadar diketahui, kelas IPA Reguler SMAN 3 Semarang tertimpa musibah semua tidak lolos SNMPTN. Iren lolos karena dari kelas akselerasi yang sistemnya berbeda tidak ada mata pelajaran on dan off.

"Akselerasi itu tiap semester tidak ada pelajaran on dan off. Mengajarnya juga cepat, jam pelajaran sama," ujarnya. 
(alg/try/detik/amimazda.com)
Loading...

Related Posts