Demi Mengejar Popularitas Yusril Nyebar Hoax 10 Juta Pekerja China ke Indonesia

shares |

Demi Mengejar Popularitas Yusril Nyebar Hoax 10 Juta Pekerja China ke Indonesia

AMIMAZDA.COM - Demi Mengejar Populeritas Yusril Nyebar Hoax 10 Juta Pekerja China ke Indonesia, Sejak kemunculan Jonru, Jagad Perpolitikan digoncang dengan Isu-Isu Hoax, mereka masih kembali menshare info hoax walau pada awal mulanya telah diketahui tersebar hoax & fitnah. 

Sebenarnya salah itu biasa, semua orang bisa salah. karena manusia tempatnya salah dan lupa, Salah seorang pimpinan Kompasiana juga pernah menshare berita hoax dan dia hanya cengar-cengir setelah ketahuan hoax. Bukannya malu karena sudah menyebar hoax, dia tetap cari celah menyudutkan Jokowi, apapun caranya.

Namun jika salah berkali-kali, misal sudah pernah jadi korban hoax Jonru namun tetap share hoaxnya lagi, ini sudah pasti mengalami gangguan jiwa. Jika ada temanmu yang seperti ini, sebaiknya segera diajak ke rumah sakit jiwa. Ini serius.

Saat kebencian atau kecintaan kepada sesuatu sudah memuncak, maka tidak penting lagi apakah materinya hoax atau bukan, yang penting bisa menghujat. Kalau hoax? Tidak masalah. Cari materi baru lagi dan share lagi, sekalipun dari informan hoax, asal materinya disukai ya dishare lagi. Begitu seterusnya.

Soal benci dan cinta ini bab emosi, bukan akademik. Jadi saat mencinta atau membenci, kita tidak akan menemukan perbedaan antara seorang profesor atau tukang sprei.

Jika teman pembaca  mengeluhkan temannya adalah makhluk pemakan hoax padahal sarjana, sekarang mari saya berikan contoh seorang profesor yang menyebar hoax. Beliau adalah mantan menteri era Gusdur, Mega dan SBY. anda tau siapa? Yusril Ihza Mahendra.

Dalam tweetnya, Yusril menuduh bahwa akan ada 10 juta pekerja China yang masuk ke Indonesia, dan ini dapat menimbulkan persoalan kependudukan, ekonomi dan politik.

Gara-gara tweet seorang profesor dan mantan menteri kawakan, maka Menteri Tenaga Kerja sampai harus membantahnya.

“Bohong besar jika dikatakan akan ada 10 juta pekerja asing asal China yang masuk Indonesia. Kemungkinan, angka itu diolah dari target kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Hanif Dhakiri. (Baca: Soal Tenaga Kerja Tiongkok Banjiri Indonesia, Menaker: Itu Bohong Besar, Justru Sebaliknya!)

Wajar saja Menteri Hanif mengklarifikasi, sebab yang menyebar informasi adalah profesor dan mantan menteri sangat berpengalaman. Andai yang menyebar informasi adalah tukang pentol, mungkin bisa kita tertawakan bersama. Ini mantan menteri lho, profesor.

Berikut data lengkap pekerja asing di Indonesia dari tahun 2011-2016:

Tahun 2011: 77.307 orang

Tahun 2012: 72.427 orang

Tahun 2013: 68.957 orang

Tahun 2014: 68.762 orang

Tahun 2015: 69.025 orang

Tahun 2016 hingga bulan Juni 43.816 orang.

Sampai di sini Menteri Hanif sudah menyatakan bahwa Yusril adalah pembohong besar.

Selanjutnya menarik untuk mencari tahu dari mana angka 10 juta tersebut? Menteri Hanif menyebut kemungkinan diolah dari data kunjungan wisatawan mancanegara.

Angka 10 juta orang ini sebenarnya terkait dua hal, pertama adalah target wisatawan mancanegara pada 2015. Kedua adalah target wisatawan China setiap tahunnya yang datang ke Indonesia.

Bagaimanapun target wisatawan mancanegara pada tahun 2015 meleset, hanya mencapai 9.5 juta wisatawan. Namun ini jauh lebih baik dibanding 2014 yang hanya 8 juta wisatawan. Sementara bahasan wisatawan China ditargetkan 10 juta orang pertahun memang dibahas khusus oleh Presiden Jokowi.

“Karena sudah bebas visa, kita minta kunjungan wisatawan antar Tiongkok dan Indonesia 10 juta per tahun. Itu hal yang kongkret yang dibicarakan dan kita berharap langsung bisa segera direalisasi. Karena minggu depan ini akan datang tim-tim yang akan menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan itu baik dari Jepang atau Tiongkok,” jelas Jokowi.

Pernyataan Presiden Jokowi ini dibuat pada bulan Maret 2015. Saat itu pemerintah sedang berencana membuat kebijakan bebas visa kunjungan bagi 45 negara, salah satunya adalah China. Menteri antar negara memang sudah bertemu dan membahas kebijakan ini.

Jadi kalau sekarang profesor Yusril termehek-mehek dengan angka 10 juta pekerja China, itu dapat dipastikan hoax. Entah profesor Yusril dapat beritanya dari mana, mungkin dari pkspiyungan atau media-media sapi lainnya.

Menganalisa maksud Yusril ber-hoax ria

Saya jujur meragukan Yusril tidak tau bahwa informasi yang diterimanya tersebut adalah hoax. Saya ragu Yusril bisa percaya begitu saja pada media sapi, sebab yang menyebut 10 juta pekerja China masuk ke Indonesia pasti media sapi. Pasti. Tapi jika memang itu yang terjadi, Yusril percaya dengan media sapi, berarti Yusril tak sepandai gelar profesornya.

Tapi begini, dalam dunia politik, popularitas adalah segalanya. Kalaupun anda berkualitas, pandai dan baik, namun jika tidak populer, anda tak akan bertahan di kancah politik. Ini harga pas, tidak bisa ditawar.

Saya yakin pembaca  masih ingat dengan nama Aceng Fikri, Bupati Garut yang menikah 4 hari dan cerai lewat SMS. Hanya 4 hari menikah. Alasannya karena tidak ada kecocokan, merasa dibohongi karena istrinya ternyata tidak diam di pondok dan alasan terakhir tidak bisa disebutkan (publik berasumsi sudah tidak perawan).

Sikap Aceng Fikri ini langsung menuai cacian. Sebab ini tentang 3 hal, pejabat publik, nikah baru 4 hari dan cerai melalui SMS. Ini luar biasa. Publik menilainya sangat negatif. Apalagi gara-gara kasus nikah cerai ini Aceng Fikri kemudian dilengserkan dari jabatannya sebagai Bupati.

Namun meski citranya sangat buruk di mata media dan masyarakat, Aceng Fikri ternyata tetap berhasil meraih suara lebih dari satu juta di pemilu 2014 dan menjadi DPD Jawa Barat. Luar biasa.

Saya berkesimpulan bahwa perbedaan antara citra negatif dan positif itu masih sangat tipis. Ketika suatu nama sudah sangat familiar di kepala, tidak penting lagi apakah negatif atau positif, semuanya disebut popularitas.

Di dunia hiburan dan media, banyak artis yang buka aib sendiri dan orang lain, nangis-nangis mempermalukan diri sendiri. Bahkan sengaja buat skandal agar namanya naik di media. Semuanya demi popularitas. Saat namanya sudah terkenal, terserah karena negatif atau positif, dia jadi mudah untuk mendapatkan tawaran kerja karena alasan sedang hits dan populer.

Anda tau Vicky yang bohong dan bertunangan dengan Zaskia goyang itik? Menggunakan bahasa langit padahal salah total. Bodoh maksimal. Tapi di dunia hiburan, ternyata malah jadi terkenal dan Vicky sempat punya acara sendiri.

Anda ingat Arya Wiguna yang marah-marah dengan Eyang Subur, menggebrak meja, lalu mendadak artis dan tampil di banyak program televisi. Padahal alasan terkenalnya sangat memalukan.

Tapi siapa yang peduli dengan itu semua. Popularitas itu tidak membedakan positif dan negatif. Yang pentin populer mereka bisa eksis.

Dengan teori seperti inilah maka tidak heran kalau mantan staf Presiden SBY, Andi Arief kerap memfitnah lewat tweetnya. Mulai dari menuduh Bu Iriana mengintervensi Polri terkait kasus Ongen, sampai memfitnah KPK sudah dilobi agar tidak menangkap Ahok. Satu Indonesia juga tau kalau itu hoax, tapi demi popularitas, Andi Arief tetap melakukannya agar tetap eksis di kancah politik.

Bahkan orang yang masih eksis di dunia politik, sekarang menjabat sebagai pimpinan DPR pun masih haus akan popularitas. Sampai-sampai mengeluarkan pernyataan bahwa “ada isu Jokowi melindungi Ahok.” Anda tau siapa yang saya maksud? Fadli Zonk.

Dengan catatan ini, saya memprediksi bahwa Yusril juga sedang mencari peruntungan untuk menaikkan popularitasnya. Setelah blusukan dengan kaos micky mouse, naik motor dan KRL, kini Yusril coba menumpang popularitas Jokowi. Karena nama Jokowi adalah magnet semua media. Tak perlu seorang profesor, warga biasa dan tukang sate pun kalau memfitnah Jokowi bisa langsung jadi trending nasional.

Numpang popularitas ini dilakukan oleh Yusril karena namanya semakin redup dan hampir pasti tidak bisa maju di Pilgub DKI. Yusril yang sebelumnya mondar mandir ambil formulir partai, dari PDIP, Gerindra, Demokrat dan entah apa lagi, namun semua partai tersebut sepertinya tidak tertarik dengan Yusril. PDIP masih galau antara Ahok dan Djarot, sementara Gerindra fokus pada Sandiaga Uno.

Yusril yang mengklaim PAN, GOLKAR, PKB juga sudah mendukung dirinya maju sebagai calon Gubernur DKI, ternyata mentah karena Golkar belum lama ini resmi mendukung Ahok.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, ketua umum partai mondar mandir daftar partai lain, ditambah dengan nol respon ditambah dengan semprotan dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. (Baca: Walah.. Yusril Disemprot Petinggi Gerindra, Dasco: Kami Punya Mekanisme Sendiri, Yusril Jangan Sok Tahu!) maka wajar kalau Yusril mengambil alternatif paling mudah untuk menaikkan popularitasnya, menyebar berita hoax tentang pemerintahan Jokowi. Maklum, Yusril ini profesor, tidak mungkin kan mencaci Jokowi hanya untuk popularitas, nanti jadi tidak ada bedanya dengan tukang sate.

Kesimpulan saya soal profesor yang menyebar info hoax ini kemungkinannya dua. Pertama, ini karena motivasi benci maksimal. Kedua, karena alasan numpang popularitas. Dan dua kemungkinan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan gelar akademik. Ini bukan salah profesornya, tapi karena motivasi atau alasan popularitas.

Jadi kalau sebelum ini kalian heran mengapa ada sarjana, dosen dan berpendidikan tapi doyan hoax, kemungkinannya ada dua tadi. Dan sekarang kalian tak perlu heran lagi, karena bahkan profesorpun doyan makan hoax.

ALIFURRAHMAN/SEWORD/AMIMAZDA.COM
Loading...

Related Posts