Sejarah Asal Mula Desa Balapulang

shares

AMIMAZDA.COM - Sejarah Asal mula Desa Balapulang, Balapulang adalah salah satu desa yang cukup maju di kabupaten Tegal. Balapulang berarti Bala = Batir/Rombongan / kumpulan sekelompok orang, sedangkan Pulang = Balik/Pulang / meninggalkan suatu tempat. Jadi sejarahnya dulu ketika jaman penjajahan, sekelompok orang yang akan berperang ( seperti prajurit ) sedang melakukan perjalanan, dan melewati daerah itu, tetapi karena ada suatu hal yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat semula dan tidak melanjutkan perjalanan. Ketika mereka akan kembali, salah seorang prajurit mengajukan usul kalau memberikan nama pada daerah ini, jadi apabila mereka melanjutkan perjalanan kembali kelak, mereka bisa tahu dan tidak sulit untuk menyebutkan nama daerah itu. Akhirnya mereka sepakat untuk memberi nama desa itu BALAPULANG, karena mereka merupakan sejumlah orang ( rombongan / BALA ) yang pergi kembali ( PULANG ).

Sejarah Asal Mula Desa Balapulang


Balapulang adalah sebuah kecamatan yang terletak ±13 km di sebelah selatan Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Balapulang Kulon dan terdiri dari 20 desa. Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Lebaksiu dan Jatinegara, barat dengan kecamatan Margasari, selatan dengan kecamatan Bumijawa dan Bojong, utara dengan kecamatan Pagerbarang. Balapulang mempunyai kode pos 52464 dan kode area telepon 0283.

Balapulang dilewati oleh kendaraan yang melintas dari Tegal / Slawi ke arah Purwokerto, jalan yang melintasi wilayah Balapulang bagus dengan pemandangan yang indah. Jalan raya ini adalah penghubung pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah bagian barat. Wilayah Balapulang terdiri dari dataran rendah yang bercuaca panas sampai daerah pegunungan yang bercuaca sejuk. Dan merupakan daerah yang sangat subur sebagian merupakan lahan persawahan, ladang pertanian dan hutan jati serta pinus. Karena sebagian wilayahnya merupakan hutan produksi (jati & pinus) di Balapulang terdapat Kesatuan Pemangku Hutan ( KPH ) Balapulang yang membawahi wilayah sebagian Tegal barat/ selatan dan Brebes. Balapulang juga dilewati oleh rel kereta api lintas cabang Tegal Prupuk, dan masih digunakan untuk mengangkut BBM (Solar, HSD & Premium) dari Maos Cilacap menuju Depo Pertamina UPPDN IV Jawa Tengah di Tegal. Stasiun kereta api Balapulang didirikan oleh Javasche Spoorweg Mij Belanda pada tahun 1885-1886.

Balapulang merupakan suatu kecamatan, dipimpin oleh seorang camat dan membawahi beberapa petugas-petugas, juga dibantu oleh seorang lurah, dan seorang ketua di setiap RT.

Masyarakat Balapulang berprofesi sebagai petani, peternak, pengrajin furniture kayu jati, pedagang, pegawai negeri / TNI / Polisi / swasta dan sebagian merantau ke kota besar lainnya di Indonesia. Dengan melambungnya harga kayu jati sebagai bahan mentah untuk furniture banyak home industri di bidang ini yang mati suri, karena harga jual produk tidak dapat menutup biaya produksi. Sehinggan banyak warga yang berprofesi dibidang ini pergi merantau kedaerah lain seperti Jakarta, Bandung dan lain lain. Penggerak roda ekonomi lainnya adalah perdagangan di pasar tradisional yang cukup ramai terutama pada hari pasaran Manis / Legi menurut sistem Kalender Jawa, Pada hari itu pasar tradisional buka lebih lama dari waktu biasanya. Di Balapulang banyak bangunan yang berfungsi sebagai gedung peternakan burung walet yang menghasilkan sarang walet yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Sarang walet tersebut adalah air liur burung walet yang setelah dibersihkan dapat diolah menjadi sup sarang burung yang enak dan mahal serta menjadi hidangan yang eksotik. Menu makanan ini sangat disukai oleh masyarat keturunan Tionghoa baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam kehidupan sehari hari masyarakat Balapulang tidak beda jauh dengan masyarakat Tegal pada umumnya yaitu menggunakan Bahasa Jawa Ngapak-ngapak / dialek Tegal. biasanya dikenal dengan dialek 'nyong' yang artinya aku, semakin ke selatan datarannya makin tinggi, bahasanya pun semakin beragam, intonasinya semakin panjang. seperti berbicara "aja kaya kue..., Pan lunga nang endi...? (intonasi panjang).

Di daerah Balapulang banyak Sekali bangunan peninggalan penjajah Belanda diantaranya :

  • Bekas Bioskop Omega yang sekarang berubah menjadi peternakan burung walet untuk diambil sarangnya yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
  • Bekas pabrik gula yang sekarang menjadi bangunan terlantar.
  • Bekas rumah dinas PJKA / PT Kereta Api Indonesia yang berupa rumah panggung yang kini berubah menjadi rumah tinggal.
  • Komplek Stasiun kereta api Balapulang yang kini kondisinya cukup memprihatinkan.
  • Bekas Rumah dinas Danramil Balapulang yang kini menjadi bangunan terlantar dan tertutup oleh bangunan ruko.
  • Bekas Kantor dan runah dinas Camat Balapulang yang kini menjadi bangunan terlantar dan tertutup oleh bangunan ruko.
  • Gedung SD Negeri Balapulang dua yang kondisinya banyak berubah dari kondidi aslinya.
  • Bangunan Kantor Pos dan Giro yang juga kondisinya kurang terawat.
  • Komplek TPK (Tempat Penimbunan Kayu) dan pabrik gondorukem milik Perhutani kini menjadi pemukiman.
  • Bangunan tua disebelah bekas bioskop omega dan masih satu komplek dengan ex pabrik gula merupakan bangunan dengan arsitektur yang unik sekarang berubah menjadi rumah tinggal dan gereja Bethel Indonesia.
Kecamatan Balapulang terdiri dari 20 desa yaitu :

  • Balapulang Kulon
  • Balapulang Wetan
  • Banjaranyar
  • Batuagung
  • Bukateja
  • Cenggini
  • Cibunar
  • Cilongok
  • Danareja
  • Danawarih
  • Harjawinangun
  • Kalibakung
  • Kaliwungu
  • Karangjambu
  • Pagerwangi
  • Pamiritan
  • Sangkanjaya
  • Sesepan
  • Tembongwah
  • Weringinjenggot

Demikian tentang Sejarah Asal mula Desa Balapulang

Related Posts